Diam Diam Ngerumpi


Kebiasaan ngerumpi tak hanya dijumpai pada kaum istri. Para suami pun sering ngerumpi. Hanya berbeda dalam beberapa hal tentang yang dirumpikan.

Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa materi ngerumpinya kaum istri sangat luas dan lebih variatif. Mulai urusan dapur, sumur, hingga kasur.

Tujuan ngerumpi sangat tidak jelas. Umumnya adalah membicarakan kelebihan dan kekurangan orang lain.

Karena ngerumpi, waktu pun terbuang percuma. Tidak produktif. Bahkan, seringkali berakhir dengan salah paham, jengkel, dan sakit hati. Tidak jarang menimbulkan fitnah.

Kebiasaan ngerumpi yang terlanjur mengakar, malah diangkat sebagai tayangan infotainment di media-media. Isu, gosip, cerita, dan kabar-kabar burung justru dikemas untuk mencari untung dengan alasan menghibur.

Islam melarang ngerumpi dengan pengertian di atas.

Imam Al Bukhari rahimahullah, dalam kitab 📚 : [ Adabul Mufrad halaman 119 ] meriwayatkan hadis Abu Hurairah tentang seorang perempuan yang rajin salat malam, sering puasa, suka berbuat baik, dan sedekah. 

Akan tetapi, perempuan itu juga mempunyai kebiasaan jelek, yaitu menyakiti tetangga-tetangganya dengan kata-kata.

Rasulullah ﷺ yang ditanya, bersabda :

لا خَيرَ فيها ، هيَ من أهلِ النَّارِ

"Perempuan itu tidak ada baiknya sedikit pun. Dia termasuk penduduk neraka"

Apa artinya kebaikan yang dilakukan? Jika di saat yang bersamaan, ia rubuhkan bangunan kebaikan dengan lisan.

Walau banyak kebaikan dikerjakan, namun mulut yang tidak dikendalikan, membuat kebaikan-kebaikan itu hangus terbakar tidak tersisakan.

Akibat suka ngerumpi terputuslah tali persaudaraan, berubahlah dari kawan menjadi lawan, cinta menjadi murka, dan persatuan hancur berkeping-keping berserakan.

Akibat ngerumpi, hidup bertetangga tak nyaman sedikit pun, tatanan masyarakat rusak, bahkan suasana lingkungan ngaji terdampak.

Imam Abu Dawud dalam hadistnya no. 4878, meriwayatkan hadis Anas bin Malik tentang perjalanan Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ. 

Beliau menyaksikan orang-orang dengan kuku-kuku tembaga yang tajam, mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri.

Nabi Muhammad ﷺ menanyakan hal itu kepada malaikat Jibril.

هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناسِ ، ويقعون في أعراضِهم

"Mereka yang suka makan daging manusia (ghibah) dan menjatuhkan kehormatan orang lain", jawab Jibril.

Naudzu billah min dzalik.

Cukuplah hadis di atas sebagai nasihat.

Jangan suka membicarakan orang lain. Alihkan pembicaraan ke hal yang lain.

Tapi berbeda lagi hal nya Diam atas Kebenaran

Tapi dia punya tujuan agar tidak ada lagi yang beramar ma'ruf nahi mungkar.

Tidak ada lagi yang membantah kesesatan, penyimpangan, kebid'ahan, dan Kekufuran

Dengan berdalihkan menjaga adab, sopan santun, dan ukhuwah.

Dengan berdalihkan itu hanya tugasnya para Ulama.

Padahal Allah Ta'ala berfirman kita kaum muslimin adalah umat terbaik, apabila memerintahkan yang Ma'ruf dan mencegah kemungkaran :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik"

📚 : [ Q.S Ali ‘Imran Ayat : 110 ]

Kemudian telah jelas pula sabda Nabi kita yg mulia yakni Muhammad Rasulullah ﷺ :

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

"Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.”  

📚 : [ H. R. Muslim, no. 49]

Ini semua adalah dalil agar kita mengatakan Al Haq sesuai kapasitas, kesanggupan dan ilmu yg kita miliki.

Dan tidak hanya dikhususkan itu hak Ulama saja, sebab mengingkari suatu kemungkaran itu dimana saja dan juga sesuai kadarnya dan kesanggupan kita.

al-Imam Abu Ali Ad-Daqqooq Asy-Syafi’i An-Naisaburi rahimahullah [ wafat pada tahun 406 H ] berkata :

الساكت عن الحق شيطان أخرس، والناطق بالباطل شيطان ناطق

“Orang yang berdiam diri dari (menyampaikan) kebenaran, maka ia adalah Syaithon Akhros ( yakni setan yg bisu dari jenis manusia ). 

📚 : [ Disebutkan oleh Imam An-Nawawi Asy-Syafi'i di dalam Syarah Shohih Muslim ]

Ya benar sekali 
"Orang yang diam dari kebenaran itu adalah SETAN BISU, lidah mereka keluh dari menyampaikan Al Haq, karena berharap Ridha manusia.

✍🏻 : Karawang, 10 Desember 2024
🏷️ Saluran WhatsApp : Klik Disini
📱Grup WA : Klik Disini
📪 Telegram : Klik Disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendaki Yang Tersesat

The Light of Eyes; Sirah Nabawiyyah

Candu