Postingan

Ramadhan Sudah Hampir Berakhir

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan akan berakhir.  Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :  “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Ta’ala )”  📚 : [ HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi ] Salah seorang ulama salaf berkata :  “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya”  📚 : [ Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 297) ] Oleh karena i...

Berangan Angan

Imam Al Hasan al Bashri rahimahullah berpesan : "Janganlah engkau berandai-andai memiliki harta seperti milik si fulan atau si fulan. Karena engkau tidak mengerti, bisa jadi kehancurannya dikarenakan hartanya itu!?" 📚 : [ Tafsir ath Thabari, no.9243 ] Dunia ini memang menggoda. Sejuta rayuan syahwat ada. Bagai lingkaran yang tak berujung karena terus bersambung. Manusia banyak menjadi korbannya. Melihat si A, andai aku seperti dia. Mendengar tentang si B, lalu berandai bisa sepertinya. Ada si C dengan kemilau dunia, ia andai-andai sama dengan si C. Harta, harta, dan harta. Pangkat, pangkat, dan pangkat. Rumah megah, mobil mewah, berpetak-petak sawah. Sehamparan tanah.  Ah, manusia memang tak berhenti berkhayal untuk terus menambah dan menambah. Berhenti setelah ditanam dalam tanah. Imam Al Hasan al Bashri rahimahullah mengingatkan untuk tidak terlena. Jangan terbuai! Jangan berandai-andai seperti mereka yang engkau anggap hebat, engkau anggap sukses, dan engkau anggap berhas...

Abu Lubabah

Semoga Kisah ini Menginspirasi Kita Bahwa; Sahabat yang dijamin masuk Surga pun tetap Taubat, bagaimana dengan kita Manusia Biasa yang berlumuran Dosa ? Abu Lubabah adalah kunyah. Nama beliau Basyir bin Abdul Mundzir. Sahabat Anshar dari suku Aus, dari perkampungan Amr bin Auf. Ada 2 riwayat: 1. Abu Lubabah ikut perang Badar. Sesuai riwayat yang menyebutkan beliau dan Ali bin Abi Thalib bergantian menunggangi unta dengan Rasulullah ﷺ ketika menuju Badar. 2. Abu Lubabah tidak mengikuti perang Badar. Beliau ditunjuk untuk bertanggungjawab atas kota Madinah saat Rasulullah ﷺ ke Badar. Bagaimana ? Tidak kontradiksi. Keduanya benar.  Ceritanya; Abu Lubabah sejak awal ikut rombongan yang berangkat ke Badar. Bergantian dengan Ali bin Abu Thalib menunggangi unta bersama Rasulullah ﷺ. Tiba di Rauha, sekira 80 km dari Madinah, Rasulullah ﷺ meminta Abu Lubabah kembali ke kota Madinah agar bersama Ibnu Ummi Maktum (yang sudah ditunjuk sebelumnya), untuk bertanggungjawab atas kota Madinah. Wa...

Abu Hafsh dan Istri Sholehah

Pada suatu hari, Abu Hafsh al-Kabir datang dari Irak menuju kota Bukhara. Kabar tentang kedatangannya cepat menyebar. Penduduk kota berbondong-bondong mendatanginya, memintanya agar berkenan menyampaikan pelajaran agama. Ia pun menyanggupi permintaan itu. Masjid dihias dengan indah. Sebuah dipan disiapkan. Abu Hafsh mengenakan pakaian sebagaimana pakaian para qadhi. Namun sebelum melangkah keluar, istrinya menahannya dengan sebuah pertanyaan sederhana, tapi sejenak membuatnya terhentak. “Ke mana engkau hendak pergi?” “Aku akan menasihati manusia,” jawabnya. Istrinya menatapnya dalam-dalam, lalu berkata pelan namun tajam. هَلْ عَمِلْتَ بِمَا عَلِمْتَ حَتَّى تَخْرُجَ إِلَى النَّاسِ فَتَعِظُهُمْ “Apakah engkau sudah mengamalkan ilmu yang engkau ketahui, hingga engkau (pantas) keluar menasihati orang lain?” Ucapan itu seperti anak panah yang tepat menembus hatinya. Ia terdiam sejenak, lalu berkata lirih. رَمَيْتَنِيْ بِسَهْمٍ نَافِذٍ. “Engkau telah melemparku dengan anak panah yang tepat ...

Ilmu, Harta, dan Pudarnya Ketulusan

Ilmu dan harta sering disebut berdampingan. Keduanya sama-sama bermanfaat. Jika salah guna, ilmu dan harta berubah madarat. Ilmu dan harta adalah anugrah, namun bila keliru letak bisa berbalik musibah.  Rasulullah ﷺ bersabda : لا حَسَدَ إِلا في اثنَتَيْنِ، رَجلٍ آتاهُ الله مالاً فسُلِّطَ على هلَكَتِهِ في الحقِّ، ورجلٍ آتاهُ اللهُ الحِكمةَ، فهْوَ يَقْضي بهَا، ويُعَلِّمُها "Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara. Seseorang yang Allah berikan harta untuknya dan dia salurkan untuk hal yang benar. Dan seseorang yang Allah beri hikmah untuknya. Dia mengamalkan dan mengajarkannya"  ✍🏻 : [ HR Bukhari 73 Muslim 816 dari sahabat Abdullah bin Mas'ud ] Hasad ada 2 macam; terpuji dan tercela.  1. Hasad tercela adalah hasad yang timbul dari rasa benci, tidak suka, bahkan berharap kenikmatan yang dimiliki orang lain hilang. Parahnya jika ia ingin kenikmatan tersebut berpindah untuk dirinya. 2. Hasad tersebut di hadis adalah hasad yang terpuji. Hasad yang berarti keinginan dan harap...

Bertabarruk Kepada Orang Meninggal

Gambar
Setelah membawakan atsar-atsar tentang tabarruk, maka Imam asy-Syathibi menyatakan yang kurang lebihnya: Bahwa tidak pernah ada yang melakukan hal demikian setelah wafatnya Rasulullah, baik kepada Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali, demikian pula terhadap para Shahabat lainnya. Kemudian tidak ada dari jalur yang shahih bahwa ada seseorang yang bertabarruk kepada salah seorang dari Shahabat, bahkan mereka mencukupkan mengikuti para Shahabat sebagaimana para Shahabat telah mengikuti Rasulullah. Jika demikian maka ini adalah ijma dari mereka untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut. Ada alasan kenapa para Shahabat tidak melakukan hal demikian: 1. Mereka berkeyakinan bahwa itu hanya khusus untuk Nabi saja. 2. Mereka mungkin tidak meyakini kekhususan untuk Nabi, tapi mereka meninggalkan perbuatan tersebut dalam rangka menutup celah agar perbuatan tersebut tidak dianggap sebagai sunnah, atau karena orang awam itu terkadang mereka melampaui batas dalam tabarruk, sa...

Akhir Kisah Orang Munafik

Berpusat di kota Madinah, kaum munafik muncul setelah perang Badar. Sebelumnya, para pembenci Islam terang-terangan memusuhi, baik dengan kata atau melalui aksi nyata. Kemenangan besar yang diraih umat Islam di perang Badar menjadi titik mula segolongan pembenci Islam mengubah taktik. Mereka menampakkan keislaman, namun sembunyi-sembunyi memusuhi. Mereka takut. Mereka sadar bahwa umat Islam adalah kekuatan yang menggetarkan. Sehari-hari kaum munafik bersikap sebagaimana umat Islam. Salat ikut walau malas-malasan, sedekah terlihat meski hanya berkomentar, jihad bergabung tetapi selalu membuat ricuh, dan seterusnya. Surat At Taubah juga disebut surat Al Fadhihah, yang artinya : Pengungkap Kejahatan.  Sebab, di dalamnya, paling tidak ada 7 peristiwa yang kaum munafik terlibat di sana, diberitakan oleh Allah Ta'ala. Ulama membagi sikap munafik menjadi dua, yaitu i'tiqadi dan 'amali.  Ada yang bersifat ideologi, ada pula yang bersifat praktik watak sehari-hari yang terlihat. Aya...