Abu Hafsh dan Istri Sholehah

Pada suatu hari, Abu Hafsh al-Kabir datang dari Irak menuju kota Bukhara. Kabar tentang kedatangannya cepat menyebar. Penduduk kota berbondong-bondong mendatanginya, memintanya agar berkenan menyampaikan pelajaran agama. Ia pun menyanggupi permintaan itu.

Masjid dihias dengan indah. Sebuah dipan disiapkan. Abu Hafsh mengenakan pakaian sebagaimana pakaian para qadhi. Namun sebelum melangkah keluar, istrinya menahannya dengan sebuah pertanyaan sederhana, tapi sejenak membuatnya terhentak.

“Ke mana engkau hendak pergi?”

“Aku akan menasihati manusia,” jawabnya.

Istrinya menatapnya dalam-dalam, lalu berkata pelan namun tajam.

هَلْ عَمِلْتَ بِمَا عَلِمْتَ حَتَّى تَخْرُجَ إِلَى النَّاسِ فَتَعِظُهُمْ

“Apakah engkau sudah mengamalkan ilmu yang engkau ketahui, hingga engkau (pantas) keluar menasihati orang lain?”

Ucapan itu seperti anak panah yang tepat menembus hatinya. Ia terdiam sejenak, lalu berkata lirih.

رَمَيْتَنِيْ بِسَهْمٍ نَافِذٍ.

“Engkau telah melemparku dengan anak panah yang tepat sasaran.”

Ia pun keluar menemui orang-orang yang telah menunggunya. Namun bukan nasihat yang ia sampaikan. Dengan suara lantang ia berkata.

انْصَرَفُوْا, فَإِنِّيْ وَجَدْتُ فِي الدَّارِ مُعَلِّمًا أَحْتَاجُ إِلَى عِلْمِهِ

“Pulanglah kalian semua. Aku telah menemukan di rumahku seorang guru, dan aku masih sangat membutuhkan ilmunya.”

Sejak hari itu, Abu Hafsh mengasingkan diri dari sorotan manusia. Selama tiga tahun, ia tenggelam dalam ibadah, memperbaiki diri, dan mengamalkan ilmu yang selama ini ia miliki.

Tiga tahun berlalu. Orang-orang kembali mendatanginya dan memintanya untuk duduk mengajar. Ia tidak tergesa-gesa. Ia kembali meminta pendapat istrinya.

“Apakah engkau telah mengamalkan ilmu yang engkau ketahui?” tanya istrinya.

“Sebagian besar telah aku amalkan,” jawabnya.

هَلْ تَعْرَفُ لِنَفْسِكَ خَصْمًا؟

“Apakah engkau mengenal seseorang yang memiliki tuntutan atas dirimu?”

Abu Hafsh pun merenung lama. Lalu ia berkata.

كُنْتُ أَطُوْفُ فِي الْمَزَارِعَ فَوَجَدْتُ بُقْعَةَ كَُرَّاثٍ فَأَخَذْتُ حُزْمَةً مِنْهَا فَأَكَلْتُهَا فَلَا أَعْرَفُ لِنَفسِى غَيْرَ هَذَا.

“Pernah suatu ketika aku melewati ladang dan melihat sebidang tanaman daun bawang. Aku mengambil seikat darinya dan memakannya. Aku tidak mengetahui”

Istrinya berkata,
“Jika demikian, penuhilah hak orang itu.”

Abu Hafsh pun mencari pemilik ladang tersebut. Ia mendapati bahwa pemiliknya adalah seorang Majusi. Ia mengaku dengan jujur dan meminta keikhlasan. Namun orang itu tidak mau memaafkannya.

“Sepuluh dirham untukmu,” kata Abu Hafsh.

Ia menolak.

“Kalau begitu, sepuluh ribu dirham, dan maafkanlah aku.”

Orang Majusi itu berkata,

“Aku harus meminta izin keluargaku terlebih dahulu.”

Ketika ia menyampaikan hal itu kepada keluarganya, mereka berkata,

إِنَّ هَذَا الدِّيْنَ حَقٌّ حَتَّى يُعْطِيَكَ الرَّجُلُ عَشْرَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ لِأَجْلِ حُزْمَةٍ كُرَّاثٍ؛فَادْخُلْ فِي دِيْنِهِ.

“Agama ini benar. Bayangkan, seseorang rela menyerahkan sepuluh ribu dirham hanya karena seikat daun bawang. Masuklah ke dalam agama ini.”

Orang itu pun menyampaikan kabar ini kepada kaum Majusi lainnya. Tujuh puluh orang dari mereka mengikuti jejaknya. Mereka datang bersama-sama ke rumah Abu Hafsh. Melihat jumlah mereka yang begitu banyak, Abu Hafsh sempat merasa gentar.
Namun mereka berkata,

اَعْرِضْ عَلَيْنَا الإِسْلَامَ.

“Tawarkanlah kepada kami Islam.”
Maka mereka semua masuk Islam.

Setelah peristiwa itu, Abu Hafsh pun duduk mengajar manusia. Dan kisah inilah yang pertama kali ia sampaikan kepada mereka kisah tentang kejujuran, tanggung jawab, dan ilmu yang harus lebih dahulu hidup di dalam diri sebelum disampaikan kepada orang lain. Semoga Allah Ta‘ala merahmatinya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa sebaik-baiknya pasangan adalah mereka yang mau saling menasihati dan menerima nasihat, karena tidak ada pasangan yang sempurna, tugas kita adalah melengkapi pasangan yang Allah kirim untuk melengkapi kekurangan kita.
 
Wallāhu a'lam

📚 Referensi :
Muhammad bin Abdullah Al-Jurjani, Jawahir Al-lu'lu'iyyah Fi Arbain Nawawiyah, hal. 253, Maktabah Al-Iman.

✍🏻 : Karawang, 12 Februari 2026
🏷️ Saluran WhatsApp : Klik Disini
📱Grup WA : Klik Disini
📪 Telegram : Klik Disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendaki Yang Tersesat

The Light of Eyes; Sirah Nabawiyyah

Candu