Sekadar analog tentang pendaki gunung. Mereka yang mencapai puncak dengan aman, lancar, dan menyenangkan, adalah yang mendaki dengan mengikuti semua aturan. Mulai dari preparing, sampai pulang kembali ke basecamp. Pernah mendengar pendaki tersesat? Apa sebabnya? Banyak pendaki tidak sampai ke puncak, bahkan tersesat, dan tidak jarang berakhir dengan kematian. Sebab terbesar adalah si pendaki itu sendiri. Kondisi fisik tidak fit dipaksa mendaki, kurang konsentrasi, tidak memiliki wawasan atau informasi terkini, kurangnya persiapan, adalah faktor-faktor yang sering menyebabkan tersesat. Ego yang diikuti juga menjadi faktor tersesat. Percaya diri berlebihan, bahkan arogan, membuatnya tidak menghormati aturan. Meremehkan dan mengarah ke sikap sombong, mendorongnya bersikap semau-maunya. Sebenarnya rute sudah dibuat pasti. Jalur pendakian diberi rambu-rambu lengkap. Kondisi cuaca telah dipelajari. Perkiraan waktu disepakati. Namun, ego dan arogan merusaknya. Karena tergoda ...
Judul di atas adalah judul kitab Nurul 'Uyuun versi terjemah bahasa Inggris. Sudah diterbitkan. Asy Syaikh Ahmad Az Zahrani yang menjelaskan secara ringkas tentang kitab Nurul 'Uyuun. Ketika berbicara tentang Siroh Nabi, beberapa nama kitab yang ringkas, beliau rekomendasikan, seperti : 1. Asy Syamail Muhammadiyah karya At Tirmidzi, 2. Al Fushul karya Ibnu Katsir, 3. Mukhtasar Siroh karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan 4. Nurul 'Uyuun karya Ibnu Sayyidin Naas. Kitab terakhir yang disebut oleh Syaikh Az Zahrani dibacakan. Beliau meminta kitab tersebut kepada salah satu muridnya. Secara acak beliau buka, dan halaman 68 sampai 70 beliau bacakan untuk kami disertai keterangan ringkas. Maa syaa Allah, Apa yang beliau bacakan sangat mengena di hati, yaitu ; "Canda tawanya Rasulullah ﷺ. Dahulu Rasulullah ﷺ senang bercanda, namun beliau tidak berkata kecuali kebenaran" Kemudian Asy Syaikh Az Zahrani membacakan tiga riwayat di dalam kitab tersebut : ...
Kawan, betapa tersiksa nya pelaku dosa. Tak hanya di akhirat yang ditakutkan ngerinya, di dunia saja ia sudah meraea tersiksa. Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, "Orang cerdas harus tahu bahwa pelaku dosa syahwat yang telah ketagihan, akan sampai di fase ; tidak bisa lagi merasakan nikmatnean lezatnya maksiat yang ia perbuat" Lalu, nikmat apa yang ia cari ? Kelezatan macam mana yang ia dapat ? Ibarat fatamorgana, ia kira bisa menghilangkan haus padahal masih dalam panas terik. Kemudian, Ibnul Qoyyim rahumahullah melanjutkan, "Namun, mereka tidak mampu untuk berhenti. Sebab, dosa syahwat sudah menjadi semacam pola hidup yang mau tidak mau harus dilakukan" Sungguh tersiksa. Ia kira dengan dosa syahwat itu akan membuatnya riang dan senang atau tenang ? Andai karat-karat hawa nafsu telah hilang, barulah tersadar bahwa dirinya selama ini telah merugi padahal inginnya senang, galau padahal maunya bahagia, dan sakit padahal tujuannya kelezatan. Kemudian, ...
Komentar
Posting Komentar
Harap mengisi kolom komentar dengan baik dan benar, segala bentuk promosi atau ujaran kebencian akan Kami Hapus.
Jika ada artikel yang kontra dengan pemahaman anda, kami menerima segala kritik dan saran. Silahkan sampaikan dengan sopan santun di kolom komentar tanpa menghujat atau playing victim, sertakan bukti pendukung yang kuat agar lebih logis.
Baarakallahu fiikum
-Owner