Mengejek Pelaku Maksiat


Diterjemahkan dan Diringkas dari,
📚 : [ Imam Ibnul Qayim rahimahullah, kitab Madarijussalikin jilid 1 hal 196, cetakan ke-3 tahun 1416H Darul Kitab Al-Arabi Beirut ]

Ejekanmu terhadap maksiat yang dilakukan saudaramu lebih besar dosanya dan lebih buruk dibandingan maksiat yang diperbuatnya. Karena ejekan tersebut menunjukan seolah dirimu lebih taat ,lebih suci dan terlepas dari dosa.

Sedangkan bisa jadi saudaramu telah mengakui dosanya. Jika itu menyebabkannya berhati remuk, merasa hina diri yang menghindarkannya dari penyakit sombong dan ujub, lalu berdiri di hadapan Allah dalam keadaan kepala tertunduk dan pandangan yang khusyu maka itu lebih manfaat dan baik untuknya daripada ketaatanmu yang kamu anggap lebih banyak yang kemudian kamu menghitung-hitungnya di sisi Allah dan membanding-bandingkannya.

Maka alangkah lebih dekatnya pelaku maksiat ini dengan rahmat Allah, dan lebih dekatnya si pengungkit-ungkit ini dengan murka Allah. Sungguh suatu dosa yang membuatmu merasa takut lebih Allah cintai daripada ketaatan yang membuatmu bangga.

Dan seandainya kamu tertidur (terlewatkan amalan malam) kemudian bangun dalam keadaan menyesal itu lebih baik daripada kamu beribadah semalaman kemudian memasuki pagi hari dengan keadaan ujub. Karena orang yang ujub amalannya tidaklah naik ke langit. Dan seandainya kamu tertawa (lalai) yang kemudian kamu mengakuinya (di sisi Allah), itu lebih baik daripada kamu tertangis khusyuk tetapi kamu membanggakannya.

Rintihan pengakuan dosa para pendosa lebih Allah cintai daripada gemuruh tasbihnya orang-orang yang berbangga. Bisa jadi dengan sebab dosa tersebut Allah mencurahkan obat yang dapat mengeluarkan suatu penyakit dari si pendosa, yang penyakit tersebut tetap terkurung pada dirimu dan membunuhmu tanpa kamu sadari.

Allah memiliki rahasia mengenai ahli taat dan ahli maksiat yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya, tidak disingkapkan kecuali untuk orang-orang yang memiliki bashiroh yang ia diberikan pengetahuan sesuai kadarnya, dan selain itu ada yang tidak disingkap kecuali untuk para malaikat pencatat amal.

Nabi -shalallahu'alaihi wa sallam- bersabda, 

"Jika seorang hamba sahaya kalian berzina maka tegakkanlah had (hukuman) atasnya, dan jangan mencelanya." 

Karena timbangan amal ada ditangan Allah, hukum hanya milik Allah, dan cambuk yang digunakan untuk menghukum pelaku maksiat tersebut ada di tangan Yang Maha Membolak-balikan hati, adapun tujuan penegakan had bukanlah untuk celaan.

Tidaklah orang yang merasa aman dari perputaran dan kekuasaan takdir kecuali orang yang jahil terhadap Allah. 

Sedangkan Allah telah berfirman kepada makhluq yang paling mengenal-Nya dan wasilah yang paling dekat dengan-Nya (Nabi Muhammad), 

وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيلًا 

"Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka (orang-orang yang tersesat)." 

📚 : [ Q.S Al-Isra ayat 74 ]

Nabi Yusuf pun berkata,

 وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ 

"Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka (orang-orang jahat itu), niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” 

📚 : [ Q.S Yusuf ayat 33 ]

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan dapat kita Amalkan.

✍🏻 : Karawang, 14 Januari 2025
🏷️ Saluran WhatsApp : Klik Disini
📱Grup WA : Klik Disini
📪 Telegram : Klik Disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendaki Yang Tersesat

The Light of Eyes; Sirah Nabawiyyah

Candu